Jagadonlinenews — Lampung Selatan
Di tengah cuaca panas ekstrem yang melanda jagad bumi Khagom Mufakat Kabupaten Lampung Selatan, pemandangan segar nan hijau nampak menyejukkan mata di Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang.
Kehadiran “Greenhouse Kebun Helau” menjadi wujud nyata inovasi program Ketahanan Pangan Tahun 2026 yang berbasis penguatan ekonomi masyarakat.
Inovasi yang menyedot perhatian ini turut menggerakkan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Lampung Selatan, Erdiansyah, untuk meninjau langsung lokasi green house usai mendampingi Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, dalam agenda acara di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi.
Kedatangan Kadis Erdiansyah disambut hangat oleh Kepala Desa Bangunrejo, Rohgianto, yang didampingi jajaran aparatur desa—termasuk Sekdes Heriyanto, Kasi Pelayanan Imam Rozali, Kadus Firnando Aditya P., Kadus Surahman, serta pengelola kebun melon, Wayan Widia.
Sentuhan Inovasi untuk Ketahanan Pangan
Kades Bangunrejo, Rohgianto, menjelaskan bahwa fasilitas greenhouse berukuran kurang lebih 1.000 meter persegi ini didirikan sejak September 2026. Bangunan ini dirancang menggunakan kerangka tiang bambu tali yang kokoh dan dilapisi plastik uv/terpal transparan di seluruh bagian atap dan sisinya.
Desain ini secara efektif melindungi tanaman dari serangan hama serta mengoptimalkan perawatan penyiraman.
Di dalam greenhouse, ditanam sekitar 1.000 bibit Melon Intanon yang kini memasuki usia sekitar 15 hari di bawah perawatan intensif sang pengelola, Wayan Widia.
“Inovasi ini sekaligus menjadi contoh konkret bagi warga masyarakat dalam memanfaatkan pekarangan sekitar agar menjadi HELAU (indah dan produktif), sejalan dengan program Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama,” ujar Rohgianto.
Potensi Ekonomi & Destinasi Wisata Petik
Sistem budidaya modern ini mendapat apresiasi tinggi dari Kadis PMD Erdiansyah. Ia menyoroti efisiensi dan potensi balik modal cepat dari budidaya melon varietas Intanon ini.
Berdasarkan penjelasan Wayan Widia, varietas Melon Intanon memiliki masa tanam hingga panen yang relatif singkat, yaitu sekitar 35 hari. Dengan siklus tersebut, dalam satu tahun kebun dapat dipanen hingga empat kali. Modal investasi awal pun diproyeksikan sudah bisa kembali hanya dalam tiga kali panen.
“Nah, ini yang sangat kita harapkan. Tidak sampai satu tahun sudah bisa kembali modal. Ke depan, tempat ini sangat potensial untuk dikembangkan lebih jauh menjadi destinasi Wisata Petik Melon di pusat Kecamatan Ketapang,” ungkap Erdiansyah optimis.
Sinergi Program SEHATI dan Rantai Pasok MBG
Dalam kunjungan tersebut, Erdiansyah juga membeberkan bahwa Kementerian Desa memiliki program unggulan yang disinergikan dengan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, yaitu Program SEHATI. Program ini berfokus pada penguatan ketahanan pangan desa serta pengelolaan sampah bernilai guna.
“Saya melakukan survei langsung karena berharap desa-desa tidak memulai dari nol, melainkan sudah ada aksi nyata seperti di Desa Bangunrejo ini. Desa lain yang masih memiliki lahan potensial harus segera menyusul,” tambah Erdiansyah.
Selain itu, Erdiansyah menegaskan pentingnya penyediaan rantai pasok untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Ia mendorong agar komoditas pangan untuk dapur MBG dipasok langsung dari hasil bumi desa lokal, bukan didatangkan dari luar daerah.
“Produk untuk Dapur MBG harus diambil dari desa sekitar. Di beberapa kecamatan lain sudah kita buatkan MoU antara Desa, BUMDes, dengan pihak MBG dan Korwil SPPG Lampung Selatan. Target kita pada tahun 2027, seluruh kebutuhan MBG wajib menyerap produk lokal desa,” tegasnya menutup kunjungan. (Red).










